Literasi Digital di Dunia Pendidikan Era Kiwari

Tulisan ini merupakan refleksi penulis terhadap masifnya penggunaan teknologi saat ini, yang belum diimbangi dengan optimal terhadap kemampuan literasi digital khususnya oleh pada para pendidik di era kiwari.

Hal ini menarik untuk dikaji dan dianalisis bersama karena literasi digital pada dunia pendidikan memiliki beragam kegunaan, diantaranya;

Dibutuhkan guna membantu proses pembelajaran dan memberikan peluang bagi guru untuk lebih produktif dalam menciptakan media pembelajaran digital menyongsong era society 5.0.

Literasi Digital

Merujuk pada pendapat UNESCO mengenai konsep literasi digital yang diartikan sebagai kemampuan teknis bersifat mengembangkan pelayanan publik berbasis digital.

Literasi digital juga dapat diinterpretasikan sebagai bentuk kemampuan untuk memperoleh, memahami, dan menggunakan informasi yang berasal dari berbagai sumber digital.

Dalam konteks pendidikan, literasi digital memiliki peran yang saya batasi menjadi dua yaitu sebagai pemantik rasa ingin tahu dan menciptakan media pembelajaran berbasis digital.

Hal ini menuntut para pendidik agar memiliki kemampuan mengolah dan memahami informasi yang baik untuk dipelajari sehingga terwujudlah para pendidik yang cakap teknologi dan cerdas dalam penggunaan media digital.

Di tengah banjirnya arus informasi digital pada era kiwari, literasi digital berperan untuk mengatasi kencangnya arus informasi yang datang dari berbagai arah.

Para pendidik kini dihadapkan pada kenyataan mengenai penggunaan media digital pada anak-anak yang berpotensi penyalaahgunaan dan ketergantungan kepada konteks ke arah negatif.

Diimbangi dengan hasil survei Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024, tingkat penetrasi internet di Indonesia meningkat menjadi 79,5%.

Hal ini merupakan warning bagi para pendidik untuk meningkatkan kemampuan literasi digital agar tidak tergerus oleh pengetahuan digital yang dimiliki para anak didik.

Sebab, dalam mendidik anak di era digital saat ini, pendidik harus menyadari bahwa kemajuan teknologi tidak dapat ditinggalkan.

Pentingnya literasi digital, sebagai penanda peradaban atau gambaran nyata yang actual dan factual tentang masyarakat dan budaya serta perilaku manusia pada era saat itu.

Fenomena adanya informasi hoax, menambahkan desakan terhadap kebutuhan dari pengetahuan literasi digital.

Perlu diperjelas, konsep literasi digital dan literasi media merupakan konsep yang berbeda.

Hal ini disepakati oleh akademisi dunia, bahwa literasi media hanya mengacu pada keterampilan penggunaan media audio visual.

Sedangkan literasi digital mengacu pada keterampilan dalam menggunakan dan mengkritisi konten yang ada di media digital.

Guru yang Melek Literasi Digital

Dalam dunia pendidikan, persoalan para pendidik saat ini bukan hanya tentang anak didiknya yang perlu meningkatkan kemampuan literasi, tetapi guru sebagai barometer pendidikan juga perlu dikuatkan kemampuannya karena guru-lah yang harus menghidupkan literasi digital.

Literasi digital bukan hanya tentang pelajaran komputer tetapi juga tentang keseharian dan aktivitas para peserta didik diberbagai platform digital.

Gen-Z hidup dalam dunia digital, penggunaan terhadap platform digital sudah ibarat seperti menghirup oksigen yaitu sebuah kebutuhan.

Ini tidak lain adalah efek domino dari adanya kebutuhan pendidikan menggunakan basis teknologi.

Selain itu para orangtua dengan sukarela membekali anak-anak mereka dengan gadget karena dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan dunia pendidikan saat ini.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan diharapkan mampu membuat anak bisa bersosialisasi dengan rekan sejawatnya, menyatukan anak didik dari berbagai suku, ras, agama.

Sehingga adanya bauran dengan lingkungan tetapi justru malah membuat anak jadi individualis dan menyendiri atau bisa dikatakan apatis dalam kehidupan sosialnya disekolah.

Ini ibaratkan, pisau bermata dua yakni dua sisinya memiliki fungsi positif ataupun negatif. Semua tergantung dari sudut mana seseorang melihatnya. Kembali lagi kepada literasi digital.

Kita tentu paham, menjadi guru yang melek literasi digital dalam pengajaran, secara fundamental mengubah sifat pengetahuan menjadi lebih aktif, kreatif, kolektif dan membangun komunikasi yang lebih luas.

Akan tetapi jika para pendidik abai dalam penguasaan teknologi, acuh terhadap kemajuan teknologi, tidak kreatif dan inovatif, maka guru akan bisa digantikan oleh teknologi.

Oleh karena itu, guru selain melek literasi digital juga diharapkan dapat menempatkan diri sebagai fasilitator maupun motivator bagi para peserta didik.

Jika murid sudah bersimpati atau memiliki ketertarikan terhadap guru mereka, bukan hal yang sulit proses pembelajaran akan meresap dengan baik untuk dipahami oleh peserta didik.

Pembelajaran tidak hanya sekedar tersampaikan tanpa makna yang berarti tetapi juga dapat berdampak untuk kehidupan peserta didik kedepannya.

Literasi Digital Sumber Peluang Guru Menciptakan Media Pembelajaran Digital

Sumber peluang yang besar pastinya memiliki tantangan yang juga semakin kompleks, peserta didik saat ini membutuhkan guru, bukan hanya yang memiliki passion dalam mengajar tetapi juga guru yang kreatif dan mampu berpikir out of the box (tidak kaku).

Sehingga untuk dapat memenuhi hal tersebut guru perlu meningkatkan kapasitasnya guna menciptakan pembelajaran yang efektif dan interaktif.

Kaitannya pada konteks literasi digital yaitu guru memerlukan kemampuan mengakses, menganalisis, mencipta, melakukan refleksi dan mampu menggunakan aneka ragam perangkat digital sebagai bentuk ekspresi dan strategi dalam berkomunikasi dengan peserta didik yang disebut GEN-Z saat ini.

Terdapat banyak cara di mana literasi digital dapat dimanfaatkan dalam konteks pembelajaran. Diantaranya yaitu:

1. Menggunakan Sumber Daya Pembelajaran Online

    Implementasi literasi digital, dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber daya pembelajaran online seperti video pembelajaran, platform e-learning juga situs website pendidikan.

    Dalam hal ini guru juga harus dapat memilih sumber daya yang relevan sesuai karakteristik peserta didik dan sesuai dengan karakter mata pelajaran, guru mampu meng-kurasi konten yang dibuat peserta didik, dan memandu peserta didik dalam mengakses serta menggunakan sumber daya pembelajaran online.

    Contohnya, guru bisa memberikan tautan video pembelajaran yang dibuatnya dengan menjelaskan konsep pelajaran secara visual, sehingga dapat membantu peserta didik memahami materi dengan lebih baik dan terarah.

    2. Kolaborasi Online

    Merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran berbasis literasi digital, guru dapat memfasilitasi kolaborasi antar peserta didik melalui platform kolaboratif seperti Google Workspace for Education atau Microsoft Teams.

    Peserta didik dapat bekerja sama dalam proyek-proyek yang menarik, berbagi dokumen yang telah mereka buat dan berkomunikasi melalui obrolan, serta konferensi video.

    Ini tidak hanya mengembangkan keterampilan kerjasama peserta didik tetapi juga membantu peserta didik untuk belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif di lingkungan digital, keterampilan yang sangat penting untuk masa depan maupun dunia kerja nantinya.

    Berdasarkan cara tersebut diharapkan, literasi digital memungkinkan proses pengajaran menjadi lebih interaktif, dinamis, dan relevan dengan dunia digital yang terus berkembang.

    Guru dapat memanfaatkan alat-alat digital dan sumber daya online untuk meningkatkan pengalaman belajar peserta didik, memfasilitasi akses pengetahuan yang lebih luas, dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan dalam masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital.

    Dengan catatan, diawali dan dimulai dari gurunya terlebih dahulu yang cakap serta terampil dalam kemampuan literasi digital.

    Jika guru sudah kokoh terhadap kemampuan literasi digital, perubahan teknologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas.

    Yakni peluang dalam menciptakan media pembelajaran digital menyongsong era society 5.0. yang menitikberatkan pada peningkatan kapasitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di segala sendi, khususnya penggunaan teknologi.

    “Guru adalah pembelajar sepanjang hayat, maka dari itu guru harus terus belajar, berani keluar dari zona nyaman, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk menghantarkan para peserta didik menghadapi masa depan.”

    Mengutip dari perkataan dosen saya pada perkuliahan Dasar dan Teori Pendidikan Hukum di STKIP Arrahmaniyah Depok, yaitu Bapak Dr. Fokky Fuad, SH., M. HUM.

    “Dalam pendidikan bukan hanya dibutuhkan kecerdasan tetapi KETAHANAN”

    Begitu juga untuk menghadapi era digitalisasi saat ini, guru harus memiliki ketahanan. Disamping kemampuan mengajar dan memahami peserta didik juga ketahanan menghadapi kemajuan teknologi.

    **Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana (S2), Magister Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, STKIP-Arrahamniyah Depok.


    Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

    Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

    Back to top button