Trending

Kronologi Kasus Dugaan Bocah Kelas 2 SD Koma Dikeroyok Kakak Kelasnya yang Viral

Akhir-akhir ini viral kasus bullying di Indonesia, salah satunya yaitu dugaan bocah kelas 2 SD koma dikeroyok kakak kelasnya.

Tentu saja kasus tersebut membuat masyarakat  Indonesia merasa miris dengan perilaku anak sekolah di masa sekarang.

Dampak pergaulan yang salah dan pendidikan tidak konsisten tampaknya membuat perilaku bully semakin sering terjadi.

Viral Kasus Dugaan Bocah Kelas 2 SD Koma Dikeroyok Kakak Kelasnya

Terbaru ada kasus viral dugaan bocah kelas 2 SD koma dikeroyok kakak kelasnya di sosial media.

Korban yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar tersebut menjadi korban pengeroyokan di kawasan Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kab. Malang.

Adapun identitas korban yang kabarnya menjadi korban pengeroyokan sampai koma oleh kakak kelasnya itu bernama Marcello Widy Febrian.

Usia korban masih sangat mudah yakni baru berumur 7 tahun dan kini videonya menjadi viral di sosial media.

Kabar bocah kelas 2 SD yang menjadi terduga korban koma kembali viral di sosial media usai akun Instagram bernama @infomalangan.

Di dalam akun tersebut ada video yang kuat dugaan direkam oleh sang ibu.

Masih di dalam video yang sama, sang ibu tengah memperlihatkan Febrian dalam keadaan koma dan ibunya melantunkan ayat suci Al Quran.

Kronologi Pengeroyokan Anak Kelas 2 SD

Dalam postingan itu, ibu korban yang bernama Dewi Sulistyowati menuturkan sebelum sang anak jatuh dan tak sadarkan diri, anaknya masih berangkat sekolah seperti biasanya.

Dewi menuturkan sang anak sempat bercerita kepadanya di hari Jumat 11 Agustus 2022 dia menjadi korban pengeroyokan oleh kakak kelasnya.

Masih di posting tersebut, korban mengaku kakak kelasnya melakukan pengeroyokan sepulang sekolah di Jembatan Sengguruh Kepanjen, Kab. Malang.

Usai ada dugaan mendapat serangan itu, Febrian mengeluh jika kepala dan perutnya terasa sakit.

Segera setelah mengeluh rasa sakit pada badannya, Dewi langsung membawa Febrian ke RS Islam Gondanglegi Kabupaten Malang.

Tidak lama sesudah berada di rumah sakit, pihak rumah sakit menyatakan bahwa Febrian masuk dalam kondisi koma.

Pihak keluarga korban tentu berharap agar pihak sekolah dan kepolisian bisa menangani kasus tersebut.

Keluarga Fabrian berharap kepolisian mengusut tuntas sampai pelaku mendapat hukuman sesuai peraturan undang-undang yang berlaku.

Postingan tersebut pun langsung ramai dengan komentar warganet yang merasa tak perlu ada kata damai seperti kasus kekerasaan sesama anak sekolah seperti ini.

Mencegah Perilaku Bullying

Berkaca dari kasus dugaan bocah kelas 2 SD koma dikeroyok kakak kelasnya, tampaknya harus ada pencegahan serius agar tidak ada pelaku perundungan.

Menyadur dari American Psychological Association, penelitian memperlihatkan bahwa kekerasan kerap kali pelaku pelajari sejak diri.

Hal tersebut  mengartikan peran orang tua serta anggota keluarga begitu penting agar bisa mendidik anak supaya belajar mengatasi emosi tanpa ada kekerasan.

Berikut ini ada beberapa cara anak supaya tidak menjadi pelaku bullying dan akan mencegah hal itu terjadi.

Memberikan Kasih Sayang dan Perhatian Konsisten

Agar anak tidak menjadi pelaku bullying, orang tua perlu memberikan kasih sayang dan perhatian kepada buah hati.

Setiap anak memerlukan hubungan yang kuat serta penuh cinta dengan kedua orangtuanya.

Hal ini dapat membuatnya merasa nyaman serta percaya dengan kondisi yang aman.

Tidak Mengalah Dengan Anak yang Berperilaku Kasar

Ketika anak berperilaku kasar, jangan berikan toleransi serta mengalah terhadap para perilakunya.

Kalau orang tua menoleransi anak yang marah lantaran keinginannya tak terpenuhi maka ia akan mencoba cara serupa sampai keinginannya tercapai.

Semoga saja pelaku kasus dugaan bocah kelas 2 SD koma dikeroyok kakak kelasnya segera tertangkap.