Udara di Jakarta Makin Tidak Bersahabat

0
132
Udara di Jakarta Makin Tidak Bersahabat
Foto : Udara

Udara di DKI Jakarta makin hari makin tidak bersahabat. Hal tersebut adalah salah satu peringatan besar dari AirVisual terhadap penduduk untuk segera melakukan perubahan.

Melansir dari CNN Indonesia, Senin (29/07/2019), AirVisual menyebut, udara di Kota Metropolitan itu tergolong pada kategori kurang sehat. Hal ini merupakan ancaman buruk bagi warga sekitar dalam melangsungkan kehidupan sebagaimana mestinya.

Menurut catatan US Air Qualiy Index (AQI), Minggu (28/07/2019) pukul 08.00 WIB. Mereka menerangkan bahwa sebanyak 189 kategori kurang sehat dengan konsentrasi 128,5 ug/m3 dan parameter PM 2.5.

Saat diulas berdasarkan US AQI, hasil analisis konsentrasi 0-10 ug/m3 dan parameter PM 2.5 tergolong sedang. Kemudian, 36-55 ug/m3 tidak sehat tergolong kurang sehat untuk daerah tertentu

Sementara 56-65 ug/m3 dikategorikan sangat kurang sehat. Lalu 66-100 ug/m3 ke atas tergolong sangat berbahaya.

Catatan AirVisual

Di sisi lain, AirVisual juga memaparkan catatan udara hingga kondisi kelembaban di Kota Metropolitan itu di akhir pekan lalu. Terbukti, kondisi Jakarta tengah mengalami 83 % kelembaban serta kecepatan angin sekitar 3,5 km/h.

Menurut Kepala Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin. Ia mengatakan bahwa pihak Pemerintah telah mengadopsi mutu kualitas udara sesuai standard. Sebagaimana hal ini sudah diterapkan oleh World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia.

“Kurang lebih kondisi di Kota tersebut sudah sesuai dengan apa yang diberlakukan oleh WHO,” ujar Safrudin.

Ia juga menambahkan, hingga kini Pemerintah memaksa untuk tetap menerapkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang telah usang atau kadaluarsa. Padahal, produk SK Menteri Lingkungan Hidup itu sudah tertinggal seiring perkembangan zaman.

Pencemaran Udara

Hal lain yang menyebabkan buruknya kualitas udara sejauh ini telah tercatat berasal dari berbagai macam hal. Beberapa di antaranya debu jalanan, pembakaran sampah, Pelabuhan Tanjung Priok, pembangunan konstruksi bangunan, rumah tangga, pembangkit listrik tenaga uap, industri hingga kendaraan.

Safrudin juga menuturkan, data yang telah tercatat pada 2018, sudah ada puluhan juta kendaraan bermotor di memadati wilayah Jakarta, Bogor, depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here