Software Simulator 737 MAX Keluaran Boeing Ternyata Bermasalah

0
140
Software Simulator 737 MAX Keluaran Boeing Ternyata Bermasalah
Foto : Pesawat Boeing Seri 737 MAX

INTERNASIONAL,- Perangkat lunak/ software simulator 737 MAX mengalami kecacatan. Perangkat lunak ini digunakan untuk melatih para pilot. Kecacatan pada perangkat lunak tersebut sudah diakui oleh Boeing, perusahaan asal Amerika Serikat (AS). Bahkan Boeing kabarnya sudah melakukan pemutakhiran perangkat lunak itu.  

Dilansir dari AFP, Minggu (19/05/2019), Boeing menyatakan, pihaknya sudah memperbaiki perangkat lunak simulator 737 MAX. Boeing juga mengaku sudah memberitahu operator perangkat bahwa smulator tersebut representatif di semua kondisi penerbangan.  

Pernyataan pihak Boeing itu menunjukkan pengakuan adanya kecacatan pada perangkat lunak simulator 737 MAX. Tidak diketahui pasti kapan Boeing menyadari kacacatan pada perangkat itu.

Namun, Boeing menggambarkan bahwa pada kondisi tertentu perangkat lunak simulator tidak mampu melakukan simulasi. Kondisi itu persis dengan insiden kecelakaan yang dialami Lion Air pada Bulan Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines pada Bulan Maret 2019.

Guna memastikan pelatihan pelanggan tidak terganggu, Boeing menegaskan, pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan produsen perangkat dan regulator.

Southwest Airlines, pelanggan seri 737 MAX, mengaku, akhir tahun ini pihaknya akan menerima perangkat lunak simulator yang sudah diperbaharui. Senada dengan itu, American Airlines mengaku sudah memesan software simulator 737 MAX dan mengoperasikannya Desember 2019 mendatang.  

Boeing Upgrade Software Simulator 737 MAX

Boeing, perusahaan asal Amerika Serikat (AS), menegaskan, pihaknya sudah menyelesaikan memperbaharui perangkat lunak pesawat 737 MAX. Sebelumnya, masalah pada perangkat tersebut ditengarai menjadi penyebab insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302.

Paska pembaharuan software, Boeing mengklaim, pihaknya sudah berhasil melakukan 207 penerbangan pada pesawat jenis 737 MAX. Boeing mengaku akan melaporkan data kepada FAA (Badan Penerbangan Sipil Amerika Serikat), tentang interksi pilot dengan kontrol kendali pesawat dan layar indikator pada kokpit. Data interaksi itu digunakan untuk menghadapi kondisi berbagai skenario pada penerbangan.   

FAA Minta Laporan Boeing

Pasca insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302, FAA meminta Boeing segera melaporkan dokumen sertifikasi software simulator 737 MAX.

Permintaan itu menyusul insiden jatuhnya Ethiopians Airlines yang menewaskan 157 penumpang. Termasuk jatuhnya pesawat Lion Air JT610 yang menewaskan 189 orang penumpang.

Pasalnya, kedua insiden fatal itu ditengarai juga ada kaitannya dengan software Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Perangkat tersebut memiliki fungsi mencegah pilot menaikkan hidung pesawat. Perangkat itu otomatis akan menukikkan hidung pesawat.

Pada kasus jatuhnya Lion Air JT610, perangkat MCAS tidak bekerja dengan baik. Pada kasus tersbeut pilot kesulitan menaikkan hidung pesawat. Karna perangkat MCAS-nya aktif, hidung pesawat kembali turun setiap kali dinaikkan.

Keluarga korban jatuhnya Lion Air JT610, sudah menggugat Boeing. Gugatan itu menyoal sistem kendali otomatis penerbangan, yakni perangkat lunak MCAS. Keluarga korban menduga sistem kerja perangkat itu membahayakan.

Masalah Perangkat 737 MAX Berimbas ke Bisnis Boeing

Gara-gara masalah perangkat 737 MAX, Boeing tidak memperoleh pesanan semua jenis pesawat. Mulai dari 737 MAX, 787 Dreamliner, dan 777. Kondisi itu terjadi sepanjang Bulan April 2019. Tepatnya, dampak itu terjadi paca insiden jatuhnya Ethiophian Airlines dan Lion Air.  

Padahal, pada Bulan April tahun 2018, sedikitnya Boeing memperoleh 76 order pesawat terbaru. Pesanan terakhir yang diperoleh Boeing terjadi pada Bulan Maret 2019. Diantaranya pesanan dari maskapai Lufthansa 20 unitpesawat 787 dan British Airways 18 unit pesawat 777X.

Analis kredit transportasi di Standard & Poor’s, Philip Baggaley, menduga, masalah yang terjadi pada 737 MAX menjadi alasannya. Pasca itu, Baggaley menduga Boeing akan menurunkan harga jual pesawat.  

Analis Aerospace Teal Group, Richard Aboulafia, menyebutkan, sebelum insiden kecelakaan jatuhnya dua pesawat, bisnis Boeing sangat masif. Tapi setelah itu, bisnis pesawat Boeing turun drastis.

Menurut Richard, penjualan seri 737 MAX dari Boeing sangat laris. Bahkan, penjualannya mencapai 5.000 unit. Tapi setelah seri 737 dilarang terbang, bisnis Boeing menurun hingga 21 persen.

Terlebih, kata Richard, untuk memperbaiki software 737 MAX, Boeing harus mengeluarkan biaya sekitar 14 triliun atau setara US$ 1 miliar. Semoga, pasca perbaikan, pesawat seri 737 bisa kembali mengudara. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here