Perayaan Hari Film Nasional Tahun 2021

Reportasee.com – Perayaan Hari Film Nasional Tahun 2021. Karya seni merupakan sebuah hal yang harus mendapatkan apresiasi. Baik hasil dari karya seni maupun senimannya.

Bentuk apreasiasi ini sangat banyak bahkan tak terhingga, bergantung pada persepsi masing-masing. Jenis dari karya seni sendiri juga banyak, salah satunya adalah seni peran atau film.

Apreasi seni film ini salah satunya dengan memperingati hari film. Di Indonesia, Hari Film Nasional jatuh pada 30 Maret. Bukan tanpa alasan, pemilihan tanggal ini berdasarkan keputusan konferensi kerja dewan film Indonesia dengan organisasi perfilman, pada 11 Oktober 1962 lalu.

Konferensi ini menghasilkan keputusan bahwa penetapan hari shooting pertama pembuatan film nasional pertama, yakni The Long March jatuh pada tanggal 30 Maret.

Sejak saat itu, setiap tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional. Dengankan dua tokoh besar Jamaludin Malik dan juga Umar Ismaillah yang menyandang gelar bapak perfilman nasional.

Keputusan penetapan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional ini kemudian mendapat persetujuan pemerintah pada tahun 1999.

Bahkan penetapan ini tertuang dalam perundangan terbaru saat itu yang berisi tentang penetapan hari Film Nasional melalui Keppres No. 25 Tahun 1999.

Tujuan Hari Film Nasional yakni sebagai bentuk apreasiasi terhadap dunia perfilman di Indonesia. Hari film nasional ini dapat membangun kepercayaan diri yang tinggi bagi pemeran film Indonesia.

Membangkitkan motivasi serta meningkatkan prestasi perfilman Indonesia, sehingga mampu mengangkat derajat perfilman Indonesia baik secara regional, nasional, maupun internasional.

The Long March, Film Pertama Indonesia

Jika mendengar hari Film Nasional sering kali The Long March juga turut hadir dalam benak. The Long March merupakan film pertama di Indonesia atau menjadi cikal bakal perfilman di Indonesia.

Jika menelisik lebih dalam mengenai perfilman di Indonesia, sebenarnya film di Indonesia sudah ada sejak jaman Belanda. Bahkan film pertama yang rilis di Indonesia yaitu Loetong Kasarung yang resmi tayang pada tahun 1926.

Kemudian pada tahun 1928 terdapat film lagi yang rilis, yakni Lily Van Shanghai. Kedua film ini bintangnya adalah pemain Indonesia, akan tetapi sutradara film adalah pihak asing.

Sehingga sepanjang film menunjukkan adanya cerminan dominasi Belanda dan juga China.

The Long March atau film darah dan doa merupakan film pertama yang produksi pada tahun 1950. Pada masa itu, filmnya masih berwarna hitam putih, Usmar Ismail sebagai produser sekaligus sutradaranya.

The Long March berisi tentang kisah bagaimana perjalanan panjang seorang prajurit Republik Indonesia yang harus kembali ke Jawa Barat.

Film The Long March ini terbilang cukup sukses karena berhasil memberikan gambaran ideologi orang-orang Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.

Perayaan Hari Film Nasional 2021

Perayaan hari film nasional umumnya berlangsung setiap tahun dengan banyak bentuk. Mulai dari penayangan film layar lebar di layar kaca televisi secara serentak dan juga bentuk perayaan lainnya.

Pada 26 Maret hingga 30 Maret mendatang, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta merayakan Hari Film Nasional tahun 2021 ini. Perayaan ini sekaligus memperingati Hari Kematian Sastrawan dan Pendiri Film Nasional dan bapak perfilman Nasional, Usmar Ismail.

Momen perayaan hari perfilman Indonesia ini begitu penting karena sebagai bentuk apresiasi kepada insan perfilman. Tujuannya agar lebih semangat dan tangguh menghadapi pandemi covid dan beberapa tantangan bagi dunia perfilman mendatang.

Mengingat masih pandemi covid, maka perayaan berlangsung dengan dua metode, yakni daring dan juga luring. Untuk perayaan dengan cara luring berlangsung di gedung Pusnas, di Jalan Merdeka Selatan Nomor 11 Jakarta Pusat.

Acara ini merupakan kolaborasi Dinas Kebudayaan DKI dengan keluarga besar H Rempo Urip, perkumpulan keluarga besar H Usmar Ismail, Roro Institute dan juga Omah Utara.

Sejumlah pihak juga turut mendukung acara ini, seperti Perpusnas RI, Persatuan Artis Film Indonesia, Kementrian Kebudayaan, serta Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta.

Di samping membuat sebuah tonggak sejarah baru dalam film The Long March, film ini juga menarasikan perjuangan bangsa Indonesia dalam mengupayakan kemerdekaan.

Potret-potret sejarah bangsa seperti perubahan sosial dan budaya Indonesia menjadi fokus kepedulian Usmar Ismail.

Beberapa hal banyak tertuang dalam film buatannya seperti “Lewat Djam Malam” tahun 1954 atau lima tahun setelah pembuatan film The Long March dan juga “Krisis” pada tahun 1953.

Bukan orang biasa, Usmar Ismail juga merupakan Pelopor Drama Modern di Indonesia dan juga pendiri Akademi Teater Nasional. Oleh karena itu, sosoknya hingga kini masih sebagai bapak perfilman Indonesia.

Meninggal pada tahun 1971, Usmar Ismail telah meninggalkan banyak catatan indah dalam sejarah perfilman Indonesia.

Sosok Usmar Ismali dan Rempo Urip

Peringatan hari film nasional sekaligus 100 tahun kematian Usmar Ismail kali ini mengangkat tema sosok besar Usmar Ismail dan rekan Perfilman sezamannya, yaitu Rempo Urip.

Rempo Urip merupakan sosok pembuat film berwarna pertama di Indonesia. Mulanya Rempo Urip merupakan seorang sutradara yang turut membantu Persari film yang Djamaludin Malik dirikan. Salah satu karya besar dari Rempo Urip adalah “Rodrigo de Villa”.

Pengambilan topik atau tema ini bertujuan untuk menceritakan kembali kedua tokoh bersejarah dalam dunia perfilman Indonesia, dan bagaimana sejarah perfilman Indonesia.

Oleh karena itu topik ini bertujuan untuk mengingatkan kembali. Rangkaian kegiatan perayaan yang berlangsung selama empat hari ini terdiri dari pameran artefak film, diskusi, hingga pemutaran film.

Perayaan ini menjadi momentum penting bagi insan perfilman, mengingat pentingnya pengetahuan tentang sejarah. Dalam gelaran acara ini juga terdapat apresiasi khusus bagi Usmar Ismail sebagai Pahlawan Nasional yang tertunda 3 tahun lamanya.

Melalui perayaan ini, insan perfilman Indonesia terus semangat dan termotivasi untuk terus berkarya dan mendapatkan hasil terbaik, sehingga mampu mengankat derajat perfilman Indonesia.

Sampai saat ini, film-film di Indonesia banyak mengalami perubahan. Perubahan ini mengarah ke arah yang cukup baik. Pada masanya, Usmar Ismail tertarik menjadikan perubahan budaya dan perjuangan sebagai cerita utama dalam filmnya.

Dan mayoritas film Indonesia saat ini menyesuaikan dengan masa, apa yang sedang terjadi di masa itu, maka film serupa pun mulai muncul. Hal ini mungkin berkaitan dengan persepsi dan kemudahan masyarakat dalam menerima pesan moral.