Hardiknas Bukan Sekedar Retorika

0
115
Reportasee.com | Cover Foto Hardiknas Bukan Sekedar Retorika
Foto : Ilustrasi

OPINI,- Mungkin masih banyak pelajar atau pun masyarakat yang belum tahu kenapa Hari Pendidikan nasional ditetapkan pada tanggal 2 Mei, meskipun mereka setiap tanggal 2 Mei memperingatinya. Bangsa Indonesia setiap tanggal 2 Mei selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Sejarah mencatat, pada tanggal 2 Mei 1889 merupakan hari kelahiran salah satu tokoh Pendidikan Nasional yaitu Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Kemudian dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Oleh sebab itulah Bangsa Indonesia menetapkan setiap tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Namun, setiap tanggal 2 Mei bukan hanya dijadikan sebagai peringatan untuk mengenang Ki Hadjar Dewantara. Lebih dari itu, Hari Pendidikan Nasional diharapkan dapat menumbuhkan semangat belajar dan menuntut ilmu bagi siapapun. Tak mengenal yang namanya jumlah usia.

Program Indonesia Pintar

Melalui Program Indonesia Pintar (PIP), pemerintah mendukung tumbuhnya pendidikan di Indonesia dengan Wajib Belajar 12 Tahun. Tidak ada alasan lagi untuk masyarakat yang kurang mampu untuk dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Menyambut Hari Pendidikan Nasional pada awal bulan depan, harapannya tidak hanya sebagai peringatan belaka. Melainkan seluruh elemen masyarakat juga seharusnya ikut andil dalam Pendidikan nasional.

Pendidik bukanlah hanya guru, karena pendidikan yang pertama dan yang paling utama adalah keluarga. Karena pendidikan bukan hanya memprioritaskan pada kemampuan akademik.

Di sisi lain yang tidak kalah penting bahkan yang pokok adalah menjadikan sikap dan karakter seseorang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Sikap dan karakter terbentuk pertama kali dari bagaimana keluarganya, juga lingkungan di mana tinggal. Selamat memperingati Hardiknas!

Peran Orang Tua

Pasalnya, orang tua sekarang kebanyakan mempercayakan sepenuhnya anak-anak mereka kepada guru saja. Para orang tua menjadikan sekolah-sekolah sebagai tempat untuk menitipkan anak-anak. Sementara orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Jika terjadi masalah terhadap anaknya, tak sedikit orang tua tanpa menanyakan lebih lanjut baik kepada anaknya atau pun gurunya. Tetapi langsung berpikir itu adalah kesalahan satu pihak yaitu sekolah. Padahal, dalam 24 jam waktu dalam sehari, anak-anak menghabiskan waktu di sekolah tidak ada setengahnya.

Selain keluarga, yang dapat mempengaruhi pembentukan sikap dan karakter adalah lingkungan. Lingkungan akan membuat anak-anak mengikuti apa yang berkembang dan apa yang terjadi di lingkungan di mana mereka tinggal.

Jika lingkungan yang ditempati baik, maka akan mempengaruhi pembentukan sikap dan karakter anak yang juga baik. Sebaliknya, jika lingkungan yang ditempati adalah lingkungan yang kurang baik, maka pengaruhnya juga kurang baik terhadap anak.

Peran Lingkungan

Karena, anak-anak akan mencontoh dari lingkungan apa yang mereka lihat yaitu perilaku orang-orang di sekitar. Sehingga dalam hal ini masyarakat juga seyogyanya bersikap dan berlaku baik untuk memberikan contoh yang positif terhadap anak-anak.

Tiga elemen penting dalam pendidikan yaitu keluarga, lingkungan dan sekolah haruslah bersama-sama dapat mendorong tumbuhnya pendidikan Bangsa Indonesia. Mengingat tidaklah mungkin jika hanya salah satu yang turut andil, sementara yang lain tidak mendukung.

Maka proses pendidikan di Bangsa ini selamanya akan terhambat. Generasi bangsa ini akan ditentukan dari bagaimana pendidikan yang ada. Selain itu, tidak lupa juga untuk seluruh masyarakat yang seharusnya wajib mendukung majunya pendidikan bangsa ini. Selamat memperingati Hardiknas! ***

*Penulis: Haris Suwondo, Guru di SMPN 3 Banjar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here