Gejala Epilepsi pada Anak Ternyata Tidak Hanya Kejang

Epilepsi atau yang biasa orang sebut sebagai ayan, merupakan gangguan kronis yang terjadi pada saraf otak yang dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia, termasuk anak-anak. Gejala epilepsi pada anak umumnya berupa kejang secara tiba-tiba.

Sebagai orang tua pastinya Anda akan merasa was-was ketika buah hati mengalami kejang secara tiba-tiba. Mungkin akan terbesit dalam pikiran Anda bahwa si kecil menderita ayan atau epilepsi. Untuk itu Anda perlu tahu lebih lanjut gejala epilepsi agar bisa membedakan dengan kejang biasa.

Kejang Tiba-tiba

Gejala yang umum terjadi pada penderita epilepsi yaitu kejang secara tiba-tiba. Kejang ini dipicu karena perubahan atau kerusakan pada bagian otak. Pada bagian otak manusia memiliki sel saraf atau biasa disebut neuron yang merupakan bagian sistem saraf.

Sel-sel saraf tersebut saling terhubungan oleh impuls listrik. Pada penderita epilepsi, impulsi listrik tersebut dihasilkan dengan berlebihan yang kemudian menyebabkan gerak tubuh tidak dapat dikendalikan sehingga mengalami kejang-kejang.

Kejang ini bisa terjadi secara kapan saja dan tiba-tiba. Bahkan bisa saat penderita atau anak sedang melakukan aktivitas, sehingga bisa sangat berbahaya apalagi jika saat anak dalam keadaan seorang diri.

Kejang Berulang

Anak yang mengidap epilepsi bisa mengalami kejang berulang, bahkan dalam rentan waktu sehari. Umumnya, epilepsi pada anak akan kambuh ketika mereka mengalami kelelahan, kurang tidur, atau sedang sakit.

Sebenarnya terdapat dua jenis kejang bisa dialami oleh penderita epilepsi, yaitu kejang parsial dan umum. Kejang parsial terjadi saat hanya sebagian sel saraf otak yang mengalami gangguan. Di mana kejang parsial sendiri masih dibagi menjadi dua lagi, yaitu simpel dan kompleks.

Saat penderita hanya mengalami gerak tubuh berupa menyentak, merasa kesemutan, dan pusing, tanpa hilang kesadaran disebut sebagai parsial simpel. Sedangkan saat penderita hampir kehilangan kesadaran disertai pandangan kosong dan gerakan tubuh lain disebut parsial kompleks.

Untuk kejang umum terjadi karena penderita mengalami gangguan pada seluruh bagian sel saraf otak. Kejang yang dialami meliputi seluruh bagian tubuh. Seperti, mata terbuka, otot tubuh rileks, berteriak-teriak, mengompol, dan lain sebagianya.

Dapat Beraktivitas Setelah Kejang

Setelah gejala epilepsi pada anak berhenti, kebanyakan dari mereka akan menjalankan aktivitas seperti biasa. Ini terjadi karena saat mengalami epilepsi anak tidak sadar, ketika gejala selesai mereka mungkin akan merasa bingung.

Saat kejang yang terjadi berakhir, otot-otot penderita akan kembali rileks dan normal, Kesadarannya akan pulih secara perlahan. Di sini penderita akan mengalami rasa lelah, bingung, dan sakit kepala sementara. Oleh karena itu, anak penderita epilepsi harus selalu Anda dampingi.

Kaku pada Seluruh Tubuh

Saat kejang berlangsung, sebagian atau seluruh tubuh anak yang mengalami kaku. Tergantung dari jenis epilepsi yang buah hati derita. Matanya akan membuka atau melotot dan kadang mulutnya mengeluarkan busa.

Hal tersebut memang terlihat mengerikan, apalagi bagi Anda yang belum berpengalaman menghadapi anak epilepsi. Namun, usahakan Anda tetap tenang dan jangan panik. Dengan perasaan yang kacau penanganan yang Anda lakukan justru akan berdampak buruk bagi anak.

Jika kejang dan kaku terjadi di tempat umum atau di tempat yang sekiranya kurang aman, segera bawa anak pergi ke tempat yang lebih aman. Jauhkan dari benda-benda tajam dan berbahaya. Lindungi tubuhnya, terutama bagian kepala.

Hilang Kesadaran

Beberapa gejala epilepsi pada anak tak sampai menghilangkan kesadaran mereka. Itu terjadi pada epilepsi parsial simple. Bagi penderita epilepsi dengan sel saraf otak yang terganggu secara keseluruhan tentu membuatnya tidak sadarkan diri sama sekali.

Seluruh gerakan, ucapan, dan segala yang keluar dari tubuhnya berjalan tanpa terkendali. Ini sangat membahayakan apalagi ketika anak dalam keadaan seorang diri. Selain harus menemaninya, Anda sebaiknya melarang anak untuk melakukan aktivitas berbahaya, seperti berenang atau bersepeda.

Perlu Anda perhatikan lagi, ketika anak mengalami epilepsi Anda harus menemaninya dari awal sampai kejang berakhir dan ia berangsur sadar. Anda harus bisa menjelaskan dengan sederhana apa yang telah terjadi pada Anak sehingga ia tak merasa kebingungan.

Terkadang, pasca gejala epilepsi beberapa penderita akan kehilangan ingatan sementara. Bantu pulihkan ingatan anak secara perlahan, jangan memaksanya. Dan yang terpenting buat anak merasa tenang terlebih dahulu.

Kedutan pada Mata dan Sebagian Wajah

Gejala lain yang umum terjadi pada penderita epilepsi yaitu kedutan pada mata dan sebagian wajah. Tentu ini terjadi karena hilangnya kendali sel saraf otak yang mengakibatkan saraf pada area mata, wajah, atau bagian tubuh lainnya bekerja sendiri tanpa perintah.

Saat menemani anak yang sedang mengalami epilepsi, Anda juga harus memperhatikan durasi gejala yang terjadi. Jika lebih dari lima menit sebaiknya Anda segera menghubungi tenaga medis. Pasalnya jika epilepsi Anda biarkan secara terus-menerus bisa berakibat fatal.

Demikian beberapa gejala epilepsi pada anak. Jika anak Anda mengalami beberapa gejala tersebut, bahkan gejala yang ringan sekali pun. Segeralah membawanya ke dokter untuk dilakukan tes dan pemeriksaan lebih lanjut.