Fenomena Alam Terbaru “Gerhana Bulan Parsial”

0
141
Fenomena Alam Menarik Gerhana Bulan Parsial
Foto : Fenomena Alam Menarik Gerhana Bulan Parsial (AP)

Fenomena alam menarik dan terbaru, gerhana bulan parsial, diprediksi bakal berlangsung di Indonesia. Gerhana bulan ini diperkirakan bakal timbul pada 17 Juli 2019 kurang lebih jam 01: 43 WIB. Gerhana bulan ini pula diprediksi mempunyai durasi lama, yaitu 4 jam 28 menit!

Berikut ini hakikat menarik terkait fenomena gerhana bulan parsial;

Durasi 4 jam 28 menit

Gerhana Bulan Parsial ini bakal nampak di Indonesia pada bertepatan pada 17 Juli 2019 ataupun Rabu dini hari, kurang lebih jam 01: 43 Wib. Gerhana ini diperkirakan berdurasi 4 jam 28 menit. Gerhana bisa jadi bakal berakhir pada jam 06: 11 Wib. Serta puncak gerhana bulan ini bakal berlangsung pada jam 04: 30 Wib.

Kelihatan di Negeri lain

Tidak hanya terlihat di Indonesia, gerhana parsial ini pula kelihatan di beberapa negara. Dikutip dari berbagai sumber, gerhana ini pula bakal kelihatan di Belgia, Thailand, Portugal, Britania Raya. Hongaria, Mesir, Turki, Prancis, Yunani, Myanmar, Spanyol, Brazil, Australia, Afrika Selatan, Argentina, Nigeria, India serta Rusia.

Terulang 18 tahun lagi

Gerhana bulan parsial ini masuk dalam seri Saros 139. Dan pada 17 Juli nanti, gerhana parsial ini merupakan kali ke- 21. Sedangkan gerhana seri Saros 139 ke- 22 diperkirakan bakal berlangsung 18 tahun lagi. Tepatnya, kurang lebih tanggal 27 Juli 2037. Dan Gerhana seri Saros 139 ke- 22 diperkirakan hanya bakal kelihatan di benua Amerika.

Peringatan ke 50 Peluncuran Roket Apollo 11

Gerhana bulan parsial ini juga bersamaan dengan hari peringatan ke 50 peluncuran roket Apollo 11. Roket Apollo 11 merupakan roket pertama yang mendaratkan manusia di bulan.

Gerhana bulan parsial ini berlangsung pada saat sebagian penampakan bulan tertutup bayangan bumi. Keadaan ini berlangsung pada saat bumi terletak diantara matahari serta bulan dan dalam satu garis lurus yang sama. Cahaya Matahari tidak meraih bulan sebab kondisinya terhalang bumi.

Garis lurus matahari, bumi serta bulan yang berlangsung saat ini menyebabkan gerhana bulan parsial. Hal itu berlangsung lantaran bulan beralih miring dari garis langsung bayangan bumi.

Gerhana parsial ini berlangsung sesudah gerhana matahari total kelihatan 2 minggu lalu di Amerika Selatan. Fenomena ini berdasarkan pada pola astronomi khas gerhana yang berlangsung dalam kurun 2 minggu pasca gerhana matahari.

Muslim Dianjurkan Laksanakan Sholat Gerhana

Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau masyarakat Muslim untuk melaksanakan sholat gerhana pada 17 Juli 2019. Sebab, saat itu diprediksi bakal terjadi gerhana bulan.

Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), Muhammadiyah Amin, dalam keterangan tertulis, Senin 15 Juli 2019, menyebutkan, puncak gerhana akan terjadi pada pukul 04:30 WIB.

Menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Indonesia bagian barat dan tengah bisa mengamati gerhana bulan. Gerhana bulan terjadi mulai bisa diamati pada 03.01 WIB hingga 05.59 WIB.

Amin mengatakan, pihaknya sudah mengirimkan surat edaran (SE) kepada Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag). Surat edaran itu berisi ajakan untuk masyarakat melakukan sholat gerhana atau sholat khusuf.

Amin menuturkan, pelaksanaan sholat gerhana disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya masing-masing. Pihaknya juga mengajak masyarakat memperbanyak zikir, istighfar, sedekah, dan amalan lain.

Berikut Tata Cara Sholat Gerhana Matahari/ Bulan

Berniat di dalam hati;

Takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana sholat biasa;

Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dikeraskan suaranya sebagaimana terdapat dalam hadis Aisyah, “ Nabi Saw. menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana.”(HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901);

Kemudian rukuk sambil memanjangkannya;

Kemudian bangkit dari rukuk (i’tidal) sambil mengucapkan “ Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbana Wa Lakal Hamd”;

Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama;

Usai rukuk kembali (rukuk kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya;

Kemudian bangkit dari rukuk (i’tidal);

Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana rukuk, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali;

Setelah bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya;

Salam. Setelah itu imam menyampaikan khotbah kepada para jamaah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdoa, beristighfar, bersedekah. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here