5 Fakta Penyakit Mikrosefalus, Viral Usai Diidap Bocah 8 Tahun

Advertisement

Fakta penyakit Mikrosefalus berikut ini menjadi salah satu informasi yang sedang viral dan jadi perbincangan kalangan warganet.

Hal ini berawal dari beredarnya kabar ada seorang bocah berumur 8 tahun di Lampung Selatan yang mengidap penyakit tersebut.

Nama sang anak yang menderita penyakit Mikrosefalus adalah Joni warga Desa Kelau Penengahan.

Akibat penyakit yang ia derita, kondisi kepala Joni menjadi lebih kecil ukurannya daripada anak normal seumurannya.

Bahkan Joni menderita lumpuh akibat dari penyakit tersebut.

Advertisement

Kisah Joni pun menjadi viral di sosial media Tiktok setelah akun @kitabisa mengunggah video perjuangan melawan penyakitnya ini.

Kondisi keluarga yang kurang mampu membuat Joni belum mendapat penanganan medis maksimal agar bisa mengobati penyakitnya.

Ayah Joni hanya seorang kuli panggul, bahkan sering kali ia mendapat asupan teh atau air tajin lantaran kedua orangtuanya tidak bisa membelikannya susu.

Inilah Fakta Penyakit Mikrosefalus yang Lagi Viral

Karena menjadi viral, banyak warganet kemudian bertanya apa penyakit Mikrosefalus tersebut?

Untuk informasi selengkapnya, berikut ada beberapa fakta penyakit Mikrosefalus yang kini menjadi viral.

1. Gejala 

Hal pertama ada gejala Mikrosefalus yang sangat terlihat adalah ukuran kepala bayi secara signifikan lebih kecil daripada bayi lainnya.

Bukan itu saja, ada juga sejumlah gejala lainnya yang bisa saja muncul antara lain:

 – Gangguan makan

 – Tangisan dengan nada tinggi

 – Terlalu aktif atau hiperaktif

 – Keterlambatan perkembangan

 – Cacat intelektual atau masalah dengan belajar

 – Kejang

Selain itu wajah anak akan semakin berkembang namun tengkoraknya tidak yang membuat si kecil memiliki wajah besar, dahi mengecil dan kulit kepala berkerut.

2. Penyebab

Ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab mikrosefalus dan bisa begitu beragam, akan tetapi tak ada penyebab yang ahli ketahui secara pahli.

Menurut WHO dalam fakta penyakit Mikrosefalus, penyebab paling umumnya antara lain:

 – Paparan bahan kimia beracun yang mungkin saat hamil sang ibu terpapar alcohol, logam berat, merkuri, arsenic, radiasi atau merokok.

 – Kelainan genetic seperti adanya sindrom Down.

 – Malnutrisi berat selama masa kehamilan atau dalam kehidupan janin.

3. Diagnosis

Untuk diagnosis mikrosefalus bisa dokter lakukan baik sebelum maupun sesudah bayi lahir.

Melansir media kesehatan, selama kehamilan pemeriksaan USG bisa memperlihatkan ukuran kepala bayi dengan lebih jelas.

Dengan demikian USG bisa memperlihatkan jika bayi mempunyai ukuran kepala lebih kecil daripada perkiraan.

Ada baiknya lakukan USG di akhir trimester kedua atau ketika masuk tiga bulan terakhir kehamilan guna melihat gambaran lebih akurat.

Sesudah bayi lahir, pihak dokter mengukur di sekitar bagian luas kepala anak dan akan menandai angka tersebut pada grafik pertumbuhan.

4. Perawatan

Mengutip dari media setempat, mikrosefalus adalah kondisi yang berlaku seumur hidup dan sampai sekarang belum ada obat ataupun pengobatan standarnya.

Kondisinya mempunyai tingkatan mulai dari yang ringan sampai berat sehingga perawatannya dapat bervariasi di tiap pasien.

Pada kondisi ringan kebanyakan bayi tak mengalmai masalah lain selain ukuran kepala mengecil.

Tetapi bayi dengan kondisi tersebut tetap memerlukan pemeriksaan rutin agar bisa memantau pertumbuhan serta perkembangannya.

5. Pencegahan

Selama kehamilan, ibu hamil dapat mengambil tindakan untuk pencegahan mikrosefalus contohnya dengan cara:

 – Konsumsi makanan dan minuman sehat juga minum vitamin prenatal.

 – Menjauhi berbagai macam bahan kimia.

 – Tak meminum alkohol ataupun memakai narkoba.

 – Sering mencuci tangan.

– Menjaga kebersihan hewan peliharaan.

Itulah beberapa fakta penyakit Mikrosefalus yang saat ini sedang viral dan malangnya menimpa seorang bocah berusia 8 tahun di Lampung.

Show More
Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *