26.8 C
Indonesia
Sabtu, September 21, 2019
No menu items!

Bupati Samosir Tolak Wisata Halal Kawasan Danau Toba

Wajib Baca

Keunikan Panggung di Atas Laut di Festival Musik Kepulauan Seribu

Reportasee.com, Kepulauan Seribu, - Keunikan Panggung di Atas Laut di Festival Musik Kepulauan Seribu. Oceanik Folk Festival...

Era Revolusi Industri 4.0, Kenali Peluang Profesi Baru Ini

Perkembangan teknologi di Indonesia saat ini sudah mencapai era revolusi industry 4.0. Keadaan seperti ini membuat banyaknya...

Daftar Kuliner Dari Betawi Yang Serba Nikmat

Indonesia memang kaya dengan keindahan alam dan kelezatan khas makanan di setiap daerah. Wisatawan baik dalam negeri...

Reportasee.com, – Bupati Samosir Tolak Wisata Halal Kawasan Danau Toba. Kabupaten Samosir secara tegas menolak penerapan wisata halal atau wisata syariah di kawasan Danau Toba, khususnya di Kabupaten Samosir.

Hal ini disampaikan Bupati Samosir Rapidin Simbolon menanggapi terkait keriuhan wisata halal serta wisata syariah di Kawasan Danau Toba yang akan digagas Gubernur Sumatra Utara, Edy Rahmayadi. Salah satu konsep halal itu yakni pelarangan pemotongan babi di sembarang tempat.

“Membaca beberapa postingan yang kami baca melalui WAG serta melalui WA jaringan pribadi, tentang wisata halal serta wisata syariah, Samosir tidak pernah menerapkan kebijakan wisata syariah serta wisata halal ini,” ungkap Rapidin, Sabtu 31 Agustus 2019 malam.

Menurut Rapidin, menolak menerapkan wisata halal serta wisata syariah di Kawasan Danau Toba terutama di Kabupaten Samosir merupakan sikap resmi pemerintahannya.

“Ini adalah keputusan pemerintah juga sebagian besar rakyat Samosir yang ada di Bonapasogit serta yang ada di tanah rantau,” ujar dia.

Dan juga tidak sesuai dengan budaya serta adat istiadat yang dianut oleh masyarakat Samosir

Bupati Samosir Tolak Wisata Halal karena tidak sesuai dengan paham kebangsaan Indonesia

Alasan penolakan wisata model Edy Rahmayadi itu karena tidak sesuai dengan paham kebangsaan Indonesia, ideologi serta dasar negara yaitu Pancasila, UUD 1945 serta Bhineka Tunggal Ika.

“Dan juga tidak sesuai dengan budaya serta adat istiadat yang dianut oleh masyarakat Samosir,” imbuhnya.

Ditanya apakah akan ada sikap resmi secara bersama para kepala daerah se-Kawasan Danau Toba merespons wacana yang dilontarkan Gubernur Edy Rahmayadi, Rapidin menjawab belum tahu.

Sebelumnya, sejumlah elemen yang fokus pada isu yang berkaitan dengan Kawasan Danau Toba (KDT) juga ramai-ramai menolak pemberlakuan konsep wisata halal tersebut.

“Konsep wisata KDT merupakan wisata berbasis budaya Batak serta babi itu sebagai simbol adat bagi orang Batak. Justru ciri has ini mesti dipertahankan bahkan dipromosikan sebagai kekayaan kuliner setempat. Harmony serta hospitality di KDT tidak lepas dari babi sebagai objek penting acara adat Batak,” ungkap Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), Maruap Siahaan menjawab medanbisnisdaily, Rabu malam (28/8/2019).

Dijelaskannya, tanpa pelarangan itu pun sudah diatur di dalam adat Batak bahwa ada tempat-tempat maupun hidangan yang khusus untuk mereka yang tidak mengkonsumsi babi atau yang disebut parsubang. Parsubang merupakan simbol toleransi yang sudah berjalan ratusan tahun. Konsep haram serta halal itu justru akan menimbulkan stigma baru yang membuat kegamangan masyarakat dalam konteks relasi serta interaksi.

Hal sama juga disampaikan Johannes Marbun dari Komunitas Gerakan Cinta Danau Toba. Menurutnya, konsep wisata itu justru harusnya menyediakan kekhasan, keunikan, sehingga wisatawan memiliki pengalaman baru serta menyenangkan.

“Jangan membuat disparitas sehingga merusak kearifan budaya serta menimbulkan perpecahan,” ujarnya.

Penolakan konsep halal-haram itu juga datang dari Aliansi Rakyat Danau Toba (ARDT). Sekretaris Umum ARDT, Efendy Naibaho menolak konsep itu serta menilai apa yang disampaikan Gubernur Sumatra Utara, Edy Rahmayadi, hanya buang-buang waktu saja.

Gubernur Sumatera Utara fokus Pada Pengembangan Pariwisata Danau Toba

Sebelumnya, Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, menyampaikan salah satu fokusnya membangun Sumut, yakni terkait pengembangan pariwisata kawasan Danau Toba. Salah satunya membentuk tim untuk Danau Toba.

Tim yang dimaksud Edy yaitu Tim Percepatan Kesuksesan Pariwisata Kawasan Danau Toba. Tim itu antara lain nantinya menyelaraskan tugas-tugas pengembangan Danau Toba dari berbagai sektor, seperti penanganan serta pengelolaan limbah industri serta limbah rumah tangga hingga penataan keramba jaring apung.

Kemudian, penataan hewan berkaki empat agar tidak sembarangan lagi untuk dipotong di tempat-tempat umum, karena status Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), juga termasuk pengembangan wisata halal, seperti mendirikan masjid.

Pemprov Sumatra Utara Buka Suara Menanggapi Bupati Samosir Tolak Wisata Halal

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara akhirnya mengeluarkan pernyataan perihal wacana wisata halal di Danau Toba yang viral dalam beberapa hari ini.

Melalui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, Ria Novida Telaumbanua, mengungkapkan bahwa wisata halal bukanlah menghilangkan budaya yang sudah ada di daerah tempat wisata. Hal ini perlu dilakukan dikarenakan banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke Danau Toba.

Apalagi saat ini, wisatawan mancanegara yang paling banyak datang yaitu yang berasal dari Malaysia juga sekitarnya. Penduduk negara tetangga itu mayoritas muslim. Untuk itu segala keperluan wisatawan tersebut harus disiapkan.

“Menyiapkan fasilitas merupakan salah satu konsep penting dalam pariwisata,” ujar Ria Novida Telaumbanua, dalam konferensi pers mengenai wisata halal Danau Toba di ruang pers, Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Pangeran Diponegoro, Sabtu 31 Agustus 2019.

Ria menjelaskan, ada tiga elemen penting dalam pariwisata yang dinamakan konsep 3A, yakni atraksi, aksesibilitas, serta amenitas.

Untuk elemen pertama yaitu Atraksi, katanya, Danau Toba sudah memenuhi syarat. Danau Toba memiliki pemandangan, budaya, serta alam yang luar biasa.

Sementara dari Amenitas, menurut Ria, Danau Toba masih perlu dibenahi. Amenitas yaitu penyediaan fasilitas pendukung yang diinginkan oleh wisatawan berupa tempat ibadah, rumah makan, tempat peristirahatan juga lainnya.

Untuk itu, semua keperluan pendukung untuk berbagai masyarakat yang datang harus ada. Apalagi Danau Toba sudah dijadikan destinasi utama oleh pemerintah pusat.

“Jangan sampai orang yang rencananya datang tiga hari jadi satu hari,” ungkap Ria.

Bagaimana mau meningkatkan wisatawan jika tidak ada fasilitas pendukung yang diinginkan wisatawan

Konsep ke-3 adalah Aksesibilitas. Konsep ini berarti Danau Toba harus mudah dicapai. Sarana serta prasarana menuju Danau Toba haruslah memudahkan wisatawan yang akan datang ke sana.

Saat ini pemeritah sedang membangun jalan tol Tebing Tinggi-Parapat. Tidak hanya itu, Bandara Silangit pun sekarang sedang diperpanjang landasannya untuk menampung pesawat yang lebih besar.

“Jadi, tiga konsep tersebut sangat penting untuk mendatangkan wisatawan ke Danau Toba,” ungkap Ria.

Senada dengan Ria, Asisten Administrasi Umum dan Aset Sumatera Utara, M Fitriyus yang pada kesempatan itu menjadi moderator menyebut penerbangan ke Danau Toba kebanyakan dari negara tetangga seperti Malaysia serta Singapura.

Untuk itu fasilitas pendukung wisatawan dari negara tersebut sangat diperlukan. Tidak hanya muslim, fasilitas pendukung seluruh masyarakat harus ada.

Wisata halal bukanlah menghilangkan budaya yang sudah ada di satu tempat wisata. Di negara-negara lain sudah ada yang menyiapkan fasilitas pendukung untuk muslim, misalnya Jepang, Korea Selatan dan lain-lain. Semata dilakukan untuk meningkatkan ceruk pasar pariwisata.

Kata Fitriyus, jika ada budaya yang selama ini belum terekspos, maka tingkatkan lagi. Label halal tidak akan mengganggu budaya yang sudah ada. Halal yang dimaksud yaitu menyiapkan sarana serta prasarana terkait hal tersebut.

“Bagaimana mau meningkatkan wisatawan jika tidak ada fasilitas pendukung yang diinginkan wisatawan?” pungkasnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru

Keunikan Panggung di Atas Laut di Festival Musik Kepulauan Seribu

Reportasee.com, Kepulauan Seribu, - Keunikan Panggung di Atas Laut di Festival Musik Kepulauan Seribu. Oceanik Folk Festival...

Era Revolusi Industri 4.0, Kenali Peluang Profesi Baru Ini

Perkembangan teknologi di Indonesia saat ini sudah mencapai era revolusi industry 4.0. Keadaan seperti ini membuat banyaknya peluang profesi baru semakin banyak...

Daftar Kuliner Dari Betawi Yang Serba Nikmat

Indonesia memang kaya dengan keindahan alam dan kelezatan khas makanan di setiap daerah. Wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri banyak yang...

Jus buah sehat yang juga bermanfaat untuk kencantikan

Menjadi cantik pasti idaman bagi seluruh kaum wanita. Skincare dan perawatan tubuh selalu ada untuk mempercantik diri. Selain menggunakan skincare dan perawatan tubuh yang...

Daftar Makanan Penyebab Kulit Menua

Penuaan merupakan salah satu hal yang dihindari karena bisa membuat penampilan tidak menarik lagi. Banyak masyarakat terutama wanita untuk mencegah penuaan...
- Advertisement -

Artikel Serupa

- Advertisement -